Sejarah Istilah Ahli Sunah wal Jamaah

Sejarah Istilah Ahli Sunah wal Jamaah

Lahirnya penamaan Ahli Sunnah wal-Jamaah

Mazhab Ahli Sunnah itu merupakan jalan yang di tempuh Rasulullullah saw. dan para sahabatnya. Mereka bukan pembuat bid’ah, sehingga nama tersebut tidak dapat dinisbatakan kepada perseorangan atau kelompok. Oleh karena itu, tidak dapat di katakan, “Mazhab Ahli Sunnah ini lahir pada tahun sekian”.

Menurut Ibnu Taimiyah, mazhab Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah mazhab yang telah ada sejak dulu. Ia sudah dikenal sebelum Allah menciptakan Abu Hanifah, Malik, Syafii, dan Ahmaf. Ahli Sunnah ialah mazab sahabat yang telah menerimanya dari Nabi mereka. Barang siapa menentang itu, menurut pandangan Ahli Sunnah, berarti ia pembuat bidah. Mereka telah sepakat bahwa ijma orang-orang sesudah sahabat. (Minhaj as-Sunnah 2: 482, Tahqiq Muhammad Rasyad Salim).

Awal terjadinya penamaan Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah ketika terjadinya perpecahan, sebagaimana yang dikhabarkan Nabi saw. Karena, sebelum terjadinya perpecahan, tidak ada istilah-istilah itu sedikit pun, baik istilah Ahli Sunna wal-Jamaah, Syiah, Khawarij, atau lainnya. Pada saat itu kaum muslimin seluruhnya berada di atas din dan pemahaman yang satu, yaitu Islam. “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19).

Cobaan itu muncul pada permulaan abad ketiga masa pemerintahan Al-Ma’mun dan (saudaranya) Al-Mu’tashim, kemudian Al-Watsiq pada saat kaum Jahmiyah menafikkan sifat-sifat Allah dan menyerukan menusia agar mengikuti paham mereka. Mazab ini dianut oleh tokoh-tokoh Rafidah (periode terakhir) yang mendapat dukungan pihak penguasa.

Terhadap penyimpangan tersebut, mazab Ahli Sunnah tentu menolak. Oleh karena itu, mereka sering mendapat ancaman ataupun siksaan. Ada pula yang dibunuh, ditakut-takuti, ataupun dibujuk rayu. Namun, dalam menghadapi situasi yang seperti ini, Imam Ahmad tetap tabah dan tegar, sehingga mereka memenjarakan beliau beberapa waktu lamanya. Kemudian, mereka menantang untuk berdebat. Dan, terjadilah berdebatan yang amat panjang.

Dalam perdebatan tersebut, demikian menurut Imam Ahmad, dibahas masalah-masalah mengenai sifat-sifat Allah dan yang berkaitan dengannya, mengenai nas-nas, dalil-dalil, antara pihak yang membenarkan dan menolak. Dengan adanya perbedaan pandangan itu, akhirnya umat terpecah belah menjadi berkelompok-kelompok.

Imam Ahmad dan imam-imam lainnya dari Ahli Sunnah serta sangat mengetahui kerusakan mazhab Rafidlah, Khawarij, Qodariyah, Jahmiyah, dan Murjiah. Namun, karena adanya cobaan, timbullah perdebatan. Dan, Allah mengangkat kedudukan Imam Ahmad ini menjadi Imam Sunnah sekaligus sebagai tokohnya. Predikat itu memang layak disandangnya, karena beliau sangat gigih dalam menyebarkan, menyatakan, mengkaji nas-nas dan atsar-atsarnya, serta menjelaskan segala rahasianya. Beliau tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan baru, apalagi pandangan bidah.

Kegigihan beliau dalam memeperjuangkan Ahli Sunnah tidak dapat diragukan lagi, sampai-sampai sebagian ulama di Maghrib mengatakan, “Mazhab itu milik Malik dan Syafii, sedangkan kepopulerannya milik Ahmad. Maksudnya, mazhab para imam ushul itu merupakan satu mazhab sperti apa yang dikatakannya”. (Manhaj as-Sunnah 2:482-486, Tahqiq Muhammad Rasyad Salim).

Imam Malik rhm. ketika ditanya tentang Ahli Sunnah menjawab dengan mengatakan, “Ahli Sunnah adalah orang-orang yang tidak memiliki laqab (gelar tertentu), yang mereka dikenal dengannya. Mereka bukanlah Jahmiyyun (pengikut pemahaman Jahmiyah), bukan Qadariyyun (pengikut pemahaman Qadariyyah), dan bukan pula Rafidiyyun (pengikut pemahaman Syiah Rafidhah).” (Al-Intiqa, Ibnu Abdil Barr, hlm. 35).

Dari sini kita sepakat, seperti apa yang telah dikatakan Dr. Mustafa Holmy, “Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah pelanjut pemahaman kaum muslimin pertama yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw. dalam keadaan beliau rida terhadap mereka, sedangkan kita tidak bisa membuat batasan permulaan (munculnya mereka) yang kita bisa berhenti padanya, sebagaimana yang dapat kita lakukan pada kelompok-kelompok yang lain. Tidak ada tempat bagi kita untuk menanyakan tentang sejarah munculnya Ahli Sunnah, seperti halnya jika kita bertanya tentang sejarah munculnya kelompok-kelompok yang lain”. (Nidzhamul Khilafah fi Fikratil Islam, hlm. 292).

Syekh Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitabnya, Minhaju as-Sunnah, “Mazhab Ahli Sunnah wal-Jamaah adalah mazhab yang terdahulu dan telah terkenal sebelum Allah menciptakan Imam Abu Hanifah, Malik, Syafii dan Ahmad. Ia adalah mazhab para sahabat yang diterima dari Nabi mereka. Barang siapa yang menyelisihi (mazhab) tersebut, maka dia adalah ahlul bidah menurut (kesepakatan) Ahli Sunnah wal-Jamaah.” (Minhaju as-Sunnah: 2/482, Tahqiq Muhammad Rasyad).

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa Ahli Sunnah wal-Jamaah merupakan kelanjutan dari jalan hidup Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Kalaupun bangkit seorang imam pada zaman bidah dan keterasingan Ahli Sunnah yang menyeru manusia kepada akidah yang benar dan memerangi pendapat yang menentangnya, ia tidaklah membawa sesuatu yang baru. Ia hanya memperbarui mazhab Ahli Sunnah yang sudah usang dan menghidupkan ajaran yang sudah terkubur. Sebab, akidah dan sisitemnya (manhaj), bagaimanapun, tidak pernah berubah.

Dan, jika pada suatu masa atau pada suatu tempat terjadi penisbatan mazhab Ahli Sunnah terhadap seorang ulama atau mujaddid (pembaru), hal itu bukan karena ulama tersebut telah menciptakan (sesuatu yang baru) atau mengada-ada. Hal itu pertimbanganya semata-mata karena ia selalu menyerukan manusia agar kembali kepada as-sunnah.

Adapun mengenai awal penamaan Ahli Sunnah wal-Jamaah atau Ahli Hadits ialah ketika telah tejadi perpecahan, munculnya berbagai golongan, serta banyaknya bidah dan berbagai golongan, serta banyaknya bidah dan penyimpangan. Pada saat itulah Ahli Sunnah menampakkan identitasnya yang brebeda dengan yang lain, baik dalam akidah maupun manhaj mereka. Namun, pada hakikatnya mereka itu hanya merupakan proses kelanjutan dari apa yang dijalankan Rasulullah saw. dan para sahabatnya.

Sumber:
1. Manhaj dan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Muhammad Abdul Hadi-Mishri
2. Majalah Salafy, Edisi IX/Rabi’us Tsani/1417/1996

Enhanced by Zemanta
This entry was posted in SEJARAH and tagged , , , , , , , by alifbraja. Bookmark the permalink.

About alifbraja

Ngawiti ingsun nglaras syi’iran …. (aku memulai menembangkan syi’ir) Kelawan muji maring Pengeran …. (dengan memuji kepada Tuhan) Kang paring rohmat lan kenikmatan …. (yang memberi rohmat dan kenikmatan) Rino wengine tanpo pitungan 2X …. (siang dan malamnya tanpa terhitung) Duh bolo konco priyo wanito …. (wahai para teman pria dan wanita) Ojo mung ngaji syareat bloko …. (jangan hanya belajar syari’at saja) Gur pinter ndongeng nulis lan moco … (hanya pandai bicara, menulis dan membaca) Tembe mburine bakal sengsoro 2X …. (esok hari bakal sengsara) Akeh kang apal Qur’an Haditse …. (banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya) Seneng ngafirke marang liyane …. (senang mengkafirkan kepada orang lain) Kafire dewe dak digatekke …. (kafirnya sendiri tak dihiraukan) Yen isih kotor ati akale 2X …. (jika masih kotor hati dan akalnya) Gampang kabujuk nafsu angkoro …. (gampang terbujuk nafsu angkara) Ing pepaese gebyare ndunyo …. (dalam hiasan gemerlapnya dunia) Iri lan meri sugihe tonggo … (iri dan dengki kekayaan tetangga) Mulo atine peteng lan nisto 2X … (maka hatinya gelap dan nista) Ayo sedulur jo nglaleake …. (ayo saudara jangan melupakan) Wajibe ngaji sak pranatane … (wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya) Nggo ngandelake iman tauhide … (untuk mempertebal iman tauhidnya) Baguse sangu mulyo matine 2X …. (bagusnya bekal mulia matinya) Kang aran sholeh bagus atine …. (Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya) Kerono mapan seri ngelmune … (karena mapan lengkap ilmunya) Laku thoriqot lan ma’rifate …. (menjalankan tarekat dan ma’rifatnya) Ugo haqiqot manjing rasane 2 X … (juga hakikat meresap rasanya) Al Qur’an qodim wahyu minulyo … (Al Qur’an qodim wahyu mulia) Tanpo tinulis biso diwoco … (tanpa ditulis bisa dibaca) Iku wejangan guru waskito … (itulah petuah guru mumpuni) Den tancepake ing jero dodo 2X … (ditancapkan di dalam dada) Kumantil ati lan pikiran … (menempel di hati dan pikiran) Mrasuk ing badan kabeh jeroan …. (merasuk dalam badan dan seluruh hati) Mu’jizat Rosul dadi pedoman …. (mukjizat Rosul(Al-Qur’an jadi pedoman) Minongko dalan manjinge iman 2 X … (sebagai sarana jalan masuknya iman) Kelawan Alloh Kang Moho Suci … (Kepada Alloh Yang Maha Suci) Kudu rangkulan rino lan wengi ….. (harus mendekatkan diri siang dan malam) Ditirakati diriyadohi … (diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ihlas) Dzikir lan suluk jo nganti lali 2X … (dzikir dan suluk jangan sampai lupa) Uripe ayem rumongso aman … (hidupnya tentram merasa aman) Dununge roso tondo yen iman … (mantabnya rasa tandanya beriman) Sabar narimo najan pas-pasan … (sabar menerima meski hidupnya pas- pasan) Kabeh tinakdir saking Pengeran 2X … (semua itu adalah takdir dari Tuhan) Kelawan konco dulur lan tonggo … (terhadap teman, saudara dan tetangga) Kang podho rukun ojo dursilo … (yang rukunlah jangan bertengkar) Iku sunahe Rosul kang mulyo … (itu sunnahnya Rosul yang mulia) Nabi Muhammad panutan kito 2x …. (Nabi Muhammad tauladan kita) Ayo nglakoni sakabehane … (ayo jalani semuanya) Alloh kang bakal ngangkat drajate … (Allah yang akan mengangkat derajatnya) Senajan asor toto dhohire … (Walaupun rendah tampilan dhohirnya) Ananging mulyo maqom drajate 2X … (namun mulia maqam derajatnya di sisi Allah) Lamun palastro ing pungkasane … (ketika ajal telah datang di akhir hayatnya) Ora kesasar roh lan sukmane … (tidak tersesat roh dan sukmanya) Den gadang Alloh swargo manggone … (dirindukan Allah surga tempatnya) Utuh mayite ugo ulese 2X … (utuh jasadnya juga kain kafannya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>